Tugas puisi haiku dan puisi biasa
Puisi haiku
1. malam meluruh
gelap menyimpan intan
bumi terengkuh
2. bulan cemerlang
bumi indah cahaya
aku dalam Hai
Anak pendosa
langit bergetar
buat gelisah
petualangan
menyalakan lilin
sisa senyuman
ia berlari
sesat dimana
jadilah bara
kau aku koki
menunggu senja
kandangan, sejenak meredam sepi
di lampu warna-warni jalanan
ku ibaratkan juga setengah kehidupanku
yang kini tampak warna-warni
tapi tampak temaram dan kusam
dalam lamat-lamat
gelap mulai merayapi sisa hujan
senja di kandangan
menjadi kekal dalam ingatan dan puisi
1. malam meluruh
gelap menyimpan intan
bumi terengkuh
2. bulan cemerlang
bumi indah cahaya
aku dalam Hai
3. Tangis sang renta
Langit pekat bergetarAnak pendosa
4. tangis sang ibu
di keheningan malamlangit bergetar
5. hujan yang pucat
gemirisik air tanah,buat gelisah
6. genangan air
daun kering berlayar,petualangan
7. di antara dingin
lidah berpilinmenyalakan lilin
8. jangkrik berisik
bulan lembut cahaya,sisa senyuman
9. gemulai sore
tanpa gerimis lalu,ia berlari
10. mencari sinyal
kesana dan kemari sesat dimana
11. gembala girang
di bawah matahari
di bawah matahari
menggiring domba
12. Sehabis hujan
pohon-pohon menghening
batu tak gigil
pohon-pohon menghening
batu tak gigil
13. Pendar pelangi
Warna warni penawar
Hidup yang hitam
14. kayu mengering
menyala dalam tungku jadilah bara
15. di dapur ini
sembako sedia penuh kau aku koki
Puisi biasa
1.
Ampunan Mu
Terbayang sejenak dengan segala yang kuperbuat
Mengigat setiap dosa yang pernah kulakukan
Tak berharga dan tak berguna
Yang kulakukan hanyalah nafsu dunia
Aku seperti bunga yang layu
Disiram tapi tak mendapat apa-apa
Hidupku seperti sebatang kara
Yang berdiri tegak dalam dosa
Air mata iman senantiasa deras menagis
Ketika apa yang kulakukan adalah sesuatu yang sia-sia
Terkadang imanku berbisik dalam benakku
Berbisik sedih bagaimana aku nantinya
Hariku tiap detik berkurang
Kesempatanku menghapus dosa tiap detik terhilang
Harapku hanya ampunanMU TUHANku
Harapku hanya ampunanMU
2. Menunggu senja
menunggu senja
kandangan, sejenak meredam sepi
di lampu warna-warni jalanan
ku ibaratkan juga setengah kehidupanku
yang kini tampak warna-warni
tapi tampak temaram dan kusam
dalam lamat-lamat
gelap mulai merayapi sisa hujan
senja di kandangan
menjadi kekal dalam ingatan dan puisi

Komentar
Posting Komentar